CONTOH
KASUS BERDASARKAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL & TRANSAKSIONAL
Contoh 1
Sekolah pada umumnya dan kelas pada
khususnya merupakan suatu bentuk komunitas masyarakat sehingga tak luput pula
dari fenomena kepemimpinan. Guru yang memiliki kewenangan di kelas sebagai
implikasi dari tugasnya dalam mendidik dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin
dan siswa yang dididik sebagai orang yang dipimpin. Kepemimpinan transaksional
dan kepemimpinan transformasional sebagai sebuah kontinum mengindikasikan bahwa
untuk menjadi pemimpin yang transformasional maka harus memiliki kualitas
kepemimpinan transaksional. Dengan kata lain, guru yang transformasional harus
pula merupakan guru yang transaksional hingga taraf tertentu.
Sebagai pemimpin transaksional fokus utama
guru adalah menjaga stabilitas suasana kelas sehingga kegiatan belajar mengajar
lancar. Suasana kelas yang tidak terkendali, banyak terjadi pelanggaran
disiplin dapat menghambat kegiatan belajar mengajar. Untuk itu kunci utamanya
adalah membuat "aturan main" yang jelas dan memberikan ganjaran
kepada siswa jika dapat mengikuti aturan main tersebut. Langkah-langkah yang
dapat diambil oleh guru untuk mencapai kualitas kepemimpinan transaksional
antara lain mengeksplorasi persepsi, keinginan dan harapan-harapan siswa terhadap
mata pelajaran yang diberikan pada awal pembelajaran. Ini penting sebab ada
kemungkinan dikalangan siswa adanya salah persepsi, keinginan dan harapan-harapan
yang tidak realistis terhadap suatu mata pelajaran tertentu.
Guru memiliki target dan tujuan yang harus
dicapai, siswa mendapat reward atas tercapainya target dan tujuan tersebut.
Ganjaran yang diberikan harus spesifik yaitu sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa. Perlu diingat pula bahwa ganjaran yang diberikan betul-betul yang riel
dan dapat diperhitungkan oleh siswa. Ini misalnya memberikan nilai minimal
tertentu jika siswa rajin dalam mengikuti mata pelajaran yang diampu guru yang
bersangkutan.
Guru sebagai pemimpin transaksional berbeda
dengan guru yang otoriter. Guru otoriter meski dapat mengendalikan situasi
kelas, tetapi biasanya sering diikuti oleh ketidakpuasan siswa sebab lebih
terfokus pada pemberian hukuman jika ada kesalahan yang diperbuat siswa.
Perbuatan yang sesuai dengan harapan, di sisi lain, biasanya dibiarkan begitu
saja tanpa diberi reward karena dianggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya.
Dengan kata lain, tidak ada pertukaran imbal balik yang saling menguntungkan
antara guru dengan siswa.
Sedang untuk berperan sebagai guru yang
transformasional, kunci utamanya adalah mcnctapkan perubahan minimal yang akan
dicapai dalam sebuah sistem kelas yang diajar. Perubahan yang dimaksud secara
khusus adalah perubahan perilaku siswa kearah yang lebih baik secara kognitif,
afektif maupun psikomotorik. Guru berfokus pada upaya-upaya untuk mencapai
perubahan tersebut. Upaya yang dapat dilakukan antara lain membangun visi dan
misi dari suatu kegiatan belajar mengajar mata pelajaran tertentu. Siswa diajak
untuk membayangkan kondisi masa depan yang hendak dicapai setelah mengikuti
mata pelajaran tersebut secara individual. Siswa diberi kebebasan dalam
menetapkan cara-cara yang hendak digunakan untuk mencapai kondisi tersebut.
Guru yang transformasional juga harus mampu
mendorong siswa untuk melakukan inovasi-inovasi terkait dengan kegiatan belajar
mata pelajaran yang ditekuni siswa. Inovasi memerlukan kreativitas. Untuk dapat
kreatif maka harus membiasakan diri berpikir divergen. Berpikir divergen adalah
proses berpikir yang tnenghasilkan alternatif yang beraneka macam.
Contoh 2
Sri
Mulyani adalah seorang pemimpin transformasional dan sekaligus pemimpin
transaksional yang berkarakter, dia memegang teguh etika kerjanya dan memiliki
integritas yang kuat sehingga terkenal sebagai pemimpin yang bersih dari faktor
KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Dia berani mengambil resiko, melawan arus
birokrasi yang ada yang sudah berjalan bertahun-tahun dan mengakar dengan kuat
dengan cara melakukan pembaharuan dan reformasi proses birokrasi di departemen
keuangan dan departemen terkait lainnya, seperti bea cukai, perpajakan, yang
terkenal kuat dengan citra KKN. SMI juga menerapkan sistem reward
dan punishment untuk
memacu proses reformasi birokrasi (misal; menaikkan pendapatan pegawai
departemen keuangan tetapi menekankan transparansi dan akuntabilitas pegawai;
mendorong setiap daerah agar menerapkan desentralisasi fiskal tetapi juga
bersikap tegas ketika ada daerah yang terlambat membelanjakan anggaran).
Tidaklah mengherankan bila kemudian dia mendapatkan beberapa penghargaan
internasional atas prestasinya memimpin departemen keuangan dan sebagai mentri
koordinator perekonomian sebagai mentri keuangan terbaik Asia tahun 2006, dan
beberapa penghargaan internasional lainnya yang sangat membanggakan bangsa
Indonesia.
SMI
menjalankan gaya kepemimpinan yang transaksional dan transformasional pada saat
yang bersamaan selama masa kepemimpinannya. Kepemimpinan transaksionalnya
terlihat pada saat dia menekankan agar pegawainya bersikap terbuka,
akuntabel dan melayani publik dan dia juga memberikan peningkatan remunerasi
sebagai imbalannya, sedangkan untuk kepemimpinan transformasionalnya saat dia
melakukan pembaharuan dan reformasi birokrasi didepartemen-departemen yang
dipimpinnya, dia memberikan contoh tentang apa yang harus dilakukan, dia
mendorong agar anak buahnya menjadi lebih baik dan bertransformasi meninggalkan
citra yang buruk, dia menginspirasi orang banyak untuk mempertahankan inegritas
dan etika yang baik sebagai pejabat publik.
SMI juga
telah membuktikan bahwa dia mempunyai kualitas-kualitas dan cirri-ciri sebagai
pemimpin yang efektif; seperti berintegritas, beretika, mempunyai visi dan misi
yang jelas, berani membuat tindakan/keputusan, berani menempuh resiko, memberikan rewards dan punishment, membawa
dan melakukan perubahan, memenuhi target yang diharapkan, dan bertanggung-jawab
dan akuntabel atas keputusannya, serta masih banyak lagi kualitas lainnya. Dari
segi kompetensi inti atau skill, SMI memiliki intelektualitas dan pengalaman
dibidang perekonomian dan dunia internasional yang sangat baik bahkan diakui
oleh pihak internasional serta memiliki kemampuan konseptual yang baik.
Kompas.com.
7 Mei 2010. Kepemimpinan SM Diakui Dunia Internasional. Jakarta.http://properti.kompas.com/read/2010/05/07/19341282/Kepemimpinan.SM.Diakui.Internasional(diakses
30 november 2010).
Purnami, Sari. (2004). Guru Sebagai Pimpinan Transaksional dan
Transformasional di dalam Kelas. Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. 1, No.
1.