Jumat, 21 Juli 2017

Peran Psikoterapi Dalam Masyarakat

PERAN PSIKOTERAPI DALAM MASYARAKAT

Masyarakat adalah sekelompok individu yang memiliki kepentingan bersama dan memiliki budaya serta lembaga yang khas. Masyarakat juga bisa dipahami sebagai sekelompok orang yang terorganisasi karena memiliki tujuan bersama. (Wikipedia). Kehidupan di dalam masyarakat tentu saja tidak lepas dari dari masalah-masalah sosial yang dapat terjadi dalam masyarakat. Masalah dapat disebabkan karena tidak kesusaian antara unsur-unsur kebudayan atau masyarakat yang akan membahayakan kehidupan sosial dan juga oleh faktor ekonomi (kemiskinan, pengangguran), budaya (perceraian, kenakalan remaja), biologi (mempertahankan diri), dan psikologis (depresi, kelainan syaraf, disorganisasi). Maka dari itu, ilmu psikologi khususnya memelalui bidang psikoterapi memiliki peran penting dalam masyarakat. 
Esensi psikoterapi pada dasarnya adalah memberi bantuan kepada orang lain yang mempunyai problem psikologis. Berbagai bentuk bantuan tersebut sebenarnya dapat ditemui pada setiap masyarakat dari berbagai budaya. Hal ini dapat dilihat dari peranan yang dilakukan oleh para tokoh spiritual, seperti Kyai, Pendeta, sesepuh masyarakat atau pun oknum Shaman dalam masyarakat tradisional. Di kalangan ahli psikologi dan psikiatri, keinginan membantu mengatasi problem kejiwaan kini semakin berkembang pesat.
Sebelum mari kita lihat penjelasan mengenai psikoterapi, psikoterapi adalah pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu “Psyche” yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan “Therapy” yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.

UNSUR DARI PSIKOTERAPI
James dan Prilleltensky mengambil suatu pendekatan transdisiplin dalam menyediakan suatau kerangkan pemahaman dan peningkatan kesehatan jiwa dalam konteks keberagaman budaya, antara lain :
  • Filosofis : agar dapat memahami bahwa nilai-nilai yang secara khusus membentuk sebuah konsep kesehatan mental, visi dari kehidupan dan masyarakat yang baik haruslah bisa diuji.
  • Kontekstual : persoalan-persoalan yang terjadi di daerah dimana masyarakat tertentu menetap. Keterlibatan ilmuwan sosial semakin tinggi apabila mereka berusaha untuk memahami kondisi sosial ekonomi, budaya dan politik dari suatu masyarakat.
  • Norma sosial dan budaya : masalah sosial hanya ditangani pada tingkat individu saja, dan tidak melibatkan masyarakat. Bantuan ditawarkan pada orang-orang yang mengalami penganiayaan dalam bentuk terapi individu.
  • Norma religi/ agama : model pendekatan medis sendiri menyatakan bahwa penderitaan tidak ada artinya apa-apa. Namun pandangan religius percaya bahwa penderitaan akan menguatkan ikatan dengan sesama dan dengan Tuhan.
  • Norma moral : persepsi individu terhadap apa artinya menjadi “orang yang baik”dan “keluarga yang baik”.
Dalam Aliansi Nasional untuk Gangguan Jiwa (NAMI)  menyebutkan langkah-langkah untuk merangkul berbagai budaya yang beragam dalam tujuan untuk menjamin adanya suatu akses setara untuk pendidikan dan pengobatan :
  • Mengidentifikasi kelompok sasaran : untuk dipelajari karakteristik dan sejarah kelompok tersebut.
  • Mengidentifikasi pemimpinan atau tokoh masyarakat setempat: pendekatan bertujuan untuk melihat gambaran kebutuhan masyarakat.
  • Mengidentifikasi organisasi masyarakat yang sudah ada : bekerja sama dengan organisasi untuk dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
  • Memutuskan fokus utama dari aktivitas :mempersiapkan beberapa metode
  • Penyebaran dan publisitas: bertujuan untuk pengumuman adanya pelayanan.

Peran Psikoterapi Dalam Masyarakat
  • Membantu dalam menghadapi masalah penyakit kejiwaan (mental), semakin maju sebuah peradaban maka semakin ramai yang akan menghadapi penyakit mental. Ini menunjukkan bahwa penyakit mental amat dipengaruhi oleh zaman disamping faktor-faktor lainnya. Penyakit mental ini dapat dikaitkan dengan tekanan ataupun stres dan penyakit gila.
  • Membantu dalam penyakit kritis, seperti penyakit kanker, HIV, dan AID. Pasien yang menderita penyakit ini akan sangat tertekan, maka sangat penting memberikan semangat dan dorongan kepada pasien untuk meneruskan hidup.
  • Psikoterapi untuk pencandu narkoba, alkohol, dan zat-zat lainnya. Oleh karena sangat dibutuhkan penyembuhan bagi mereka agar bisa terlepas dari hal tersebut.

Daftar Pustaka:
Baruddin. (2012). Psikoterapi islam dan kesehatan mental. Jurnal Tasamuh, 4, (1),97-106.
Kusnadi, E. Konseling dan psikoterapi dalam isliam. Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi. file:///C:/Users/planet/Downloads/673-1986-1-PB.pdf 

Kamis, 13 Juli 2017

TEKNIK FLOODING PADA PHOBIA

TEKNIK FLOODING DALAM TERAPI PHOBIA

Pada kesempatan ini, saya akan menganalisis salah satu kasus yang berkaitan dengan penggunaan teknik flooding dalam menyembuhkan phobia seseorang.
Terlebih dahulu saya akan menjelaskan kembali teknik flooding, yaitu teknik dimana mendorong pasien berhadapan langsung dengan situasi yang menakutkan, dibiarkan beberapa saat sampai ia menjadi tenang dan menguasai ketakutannya, serta melalui pembayangan situasi menakutkan (teknik Implosi). Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan pada klien.




ANALISIS KASUS

Seorang perempuan berusia 20 tahun yang bernama Meghan memiliki phobia terhadap balon. Untuk mengatasi phobia tersebut, Meghan diberikan teknik terapi flooding, yaitu dimana Meghan dipaparkan secara langsung dengan balon. Pada saat dipaparkan dengan balon, Meghan diberikan sebuah jarum untum meledakkan balon tersebut pada saat dia cemas. Pada vidio ini pemaparan balon dilakukan sebanyak tiga kali dan kecemasan Meghan akan dinilai dari skala 1-10, nilai 10 untuk kecemasan yang paling tinggi.
Pemaparan 1
Meghan terlihat sangat cemas pada saat melihat ada beberapa balon didepannya dan meledakkan balon tersebut secara cepat.

Pemaparan 2
Meghan tampak tidak secemas pemaparan yang pertama dan tetap meledakkan balon, tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari pemaparan yang pertama.

Pemaparan 3
Meghan tidak cemas ketika melihat beberapa balon didepannya dan sudah berani untuk memegang balon tersebut tanpa meledakkannya.

Jadi dengan menggunakan teknik flooding ini, phobia Meghan terhadap balon dapat teratasi. Dengan adanya 3 kali pemaparan, sehingga Meghan tidak memiliki kecemasan lagi terhadap balon.

Selasa, 11 Juli 2017

Teknik Terapi Flooding

Flooding & Implosive Therapy
Salah satu cara untuk menghilangkan respons kecemasan yang terkondisi secara klasik adalah melalui proses penghapusan (extinction). Penghapusan terjadi bila stimulus yang ditakuti (stimulus yang terkondisi) berulang-ulang diberikan dan tidak ada alasan untuk ditakuti (stimulus yang tidak terkondisi). Apabila menggunakan penghapusan sebagai strategi terapi, individu yang menderita fobia diekspos berulang-ulang pada stimulus yang ditakuti, karena pengeksposan kepada stimulus yang mula-mula ditakuti menyebabkan individu dilanda kecemasan, maka teknik terapi ini sering disebut flooding. Individu dipaksa berada dalam situasi yang mencemaskan dan merasakan keseluruhan rasa cemas atau takut, tidak diperkenankan menghindar atau melarikan diri dari keadaan tersebut.
Teknik selanjutnya disebut juga terapi implosi (implosion therapy), yaitu memasukan tekanan secara tiba-tiba, kecemasan yang meningkat secara mendadak bila individu diekspos kepada stimulus yang ditakuti.

Floding dan Implasion adalah terapi induksi kecemasan untuk memadamkan fobia. Salah satu terapi untuk penyembuhan fobia bisa melalui terapi flooding, yaitu dengan menempatkan si penderita dengan objek yang ditakutinya hingga si penderita tersebut tidak mengalami takut lagi terhadap objek tersebut. Ada beberapa bukti bahwa prosedur terapi flooding mungkin lebih efisien daripada perawatan secara tahap demi tahap untuk menangani fobia (Emmelkamp, 1975). Dalam percobaan menggunakan makhluk hidup (in vivo) seperti manusia, dengan menggunakan metode flooding sangat efektif sekali dalam penanganan kepada penderita agoraphobia, specific phobias, dan compulsive disorders (Boudewyns, 2012).
  • Flooding adalah teknik membanjiri klien dengan situasi atau penyebab kecemasan atau tingkah laku tidak dikendaki dan tidak membiarkan klien untuk melarikan diri, sampai klien sadar bahwa yang dicemaskan tidak terjadi.
  • Implasion adalah mewajibkan klien untuk membayangkan hal yang tidak nyata, berlebihan atau peristiwa berbahaya yang berkaitan dengan fobia.

Prinsip dasar : meloloskan diri dari pengalaman yang menimbulkan kecemasan akan memperkuat kecemasan melalui pembiasaan.

Teknik :
  • Mendorong pasien berhadapan langsung dengan situasi yang menakutkan, dibiarkan beberapa saat sampai ia menjadi tenang dan menguasai ketakutannya
  • Melalui pembayangan situasi menakutkan (teknik Implosi). Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan pada klien.
Kontra Indikasi : Kecemasan yang kuat akan membahayakan. Flooding harus dilakukan dengan hati-hati karena mungkin akan terjadi reaksi emosi sangat tinggi. 

DAFTAR PUSTAKA

Boudewyns, P.A. (2012). Eye movement Desensitization and Reprocessing for combat-related PTSD: an early look. Los Angeles, CA : American Psycological Association.
Emmelkamp, P.M.G., Kamphuis, J.H. (2007). Personality Disorder. London: Psychology Press/Taylor&Francis.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: KANISIUS.