Rabu, 27 April 2016

OCD


Obsessive Compulsive Disorder



Definisi OCD ( Obsessive Compulsive Disorder )
Gangguan obsesif kompulsif atau yang lebih sering dikenal dengan singkatan OCD adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. OCD termasuk ke dalam gangguan neurobiologis yang menggangu fungsi otak, sehingga kelainan ini dapat dideteksi melalui scan otak. Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Misalnya, orang yang merasa harus memeriksa pintu dan jendela lebih dari tiga kali sebelum meninggalkan rumahnya.

  • Obsesi: ketakutan, ketidak yakinan, kekhawatiran, atau pikiran-pikiran yang mengganggu 
  • Kompulsi: perilaku repetitif (baik secara fisik maupun mental) yang dimaksudkan untuk menghilangkan obsesi, namun pada kenyataannya malah menjadi reinforcement bagi obsesi tersebut sehingga membuat obsesi bertambah parah.
Seseorang dapat dinyatakan menderita OCD ketika obsesi atau kompulsi menyebabkan stress yang signifikan, terjadi lebih dari satu jam sehari, serta menyebabkan individu tersebut kesulitan untuk menjalankan kegiatan sehari-harinya dengan normal.
Jumlah pasti penderita OCD sulit diketahui karena para penderita umumnya enggan ke dokter. Tetapi Anda tidak perlu malu dan menutupinya jika mengalami OCD. Gangguan ini merupakan penyakit jangka panjang seperti halnya tekanan darah tinggi dan diabetes.

Gejala OCD
Seseorang yang menderita OCD seringkali memiliki obsesi dan tekanan. Namun, tidak jarang pula ia hanya mengalami satu kondisi. Obsesi mungkin muncul, namun tidak disertai dengan tekanan atau paksaan, begitupun sebaliknya. Baik itu hanya satu kondisi atau keduanya yang muncul pada seseorang, orang tersebut tetap dianggap menderita OCD. Gejala OCD yang muncul pada tiap penderita berbeda-beda. Ada yang ringan di mana penderita menghabiskan sekitar satu jam bergelut dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya, tapi ada juga yang parah mengalami gangguan ini hingga mengendalikan hidupnya.Penderita OCD juga umumnya terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku tertentu. Ada empat tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kemudian kelegaan sementara.


Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa ketakutan atau kecemasan. Kemudian obsesi dan rasa kecemasan akan memancing aksi kompulsi di mana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan dikurangi. Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara, tapi obsesi serta kecemasan akan kembali dan membuat penderita mengulangi pola tersebut.
Sifat perfeksionis berbeda dengan gejala OCD. Menjaga kebersihan serta kerapian yang berlebihan bukan berarti Anda menderita OCD. Pikiran OCD bukan hanya sekadar rasa cemas yang ekstrem tentang masalah dalam kehidupan. Jika obsesi dan kompulsi sudah menghambat rutinitas, periksakan diri ke dokter atau psikolog.


Gejala obsesif yang paling umum terjadi adalah:
  • Rasa takut – seperti takut pada kotoran, kuman, api, atau kerusakan fisik.
  • Ragu – ragu apakah suatu pekerjaan telah dikerjakan dengan benar, seperti mengunci pintu atau mematikan kompor.
  •  Pikiran tidak masuk akal – agresi, tindakan yang tidak pantas, atau tindakan seksual

Gejala kompulsif yang paling umum terjadi adalah:

  • Keteraturan
  • Pengecekan dan pengecekan ulang
  • Penghitungan
  •  Rutinitas yang kaku
Pada tahap awal OCD, gejala obsesif dan kompulsif cukup sulit untuk dikenali. Namun, setelah kondisi bertambah parah, gejala-gejala tersebut juga akan bertambah parah. Anak-anak yang mengalami kondisi ini mungkin tidak akan menyadarinya, namun orang dewasa yang memiliki OCD biasanya menyadari bahwa obsesi dan tekanan mereka tidak beralasan.


Kelompok Usia yang Paling Banyak Terkena OCD
Meski OCD dapat muncul baik ketika anak-anak maupun ketika beranjak rmaja, banyak sekali orang yang mulai menderita gangguan ini ketika pertama kali memasuki jenjang perkuliahan. Ada beberapa yang mengalaminya secara tiba-tiba; ada pula yang pernah mengalami OCD ringan saat kecil, namun bertamabah parah ketika masuk dunia perkuliahan.
Stres tidak menyebabkan OCD, dan manajemen stres tidak dapat menyembuhkannya begitu saja. Namun stres dapat memperburuk OCD, dan seperti yang kita ketahui, dunia perkuliahan dipenuhi dengan berbagai rintangan akademis yang berpotensi membuat stres: tekanan akademis, tanggung jawab dan level kemandirian yang lebih tinggi, lingkungan yang baru,s erta hal-hal lainnya. Selain itu, faktor yang dapat memperparah OCD pada mahasiswa adalah gaya hidup yang tidak sehat. Sebagian besar mahasiswa kurang memperhatikan kesehatan mereka; mereka tidak mengkonsumsi makanan sehat, kurang tidur dan olahraga, serta terlalu banyak mengkonsumsi kafein. Mengabaikan kesehatan dapat memperparah penyakit apapun, dan OCD bukanlah pengecualian.

Faktor Risiko Dalam OCD
Hingga hari ini, penyebab pasti dari OCD masih belum diketahui. Namun, ada beberapa teori tentang hal ini. Teori pertama mengatakan bahwa OCD disebabkan oleh faktor biologis, seperti perubahan pada tubuh. Teori lainnya adalah OCD disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti stres dari lingkungan sekitar. Penjelasan secara psikologis menekankan bagaimana penderita OCD belajar menghindari situasi tertentu sehingga memperparah kompulsi. Individu tersebut biasanya memiliki rasa tanggung jawab yang berlebihan, di mana mereka sangat yakin bahwa mereka dapat mencegah suatu hal buruk terjadi. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menganalisis adanya sejumlah faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko OCD. Di antaranya:
  1. Faktor genetika. Ada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan ini berhubungan dengan gen tertentu yang memengaruhi perkembangan otak. Adanya faktor genetik yang diwariskan dalam keluarga membuat otak bekerja terlalu keras untuk meregulasikan sistemnya ketika individu mengalami stres
  2. Ketidak normalan pada otak. Hasil penelitian pemetaan otak memperlihatkan adanya ketidaknormalan pada otak penderita OCD yang melibatkan serotonin yang tidak seimbang. Serotonin adalah zat penghantar yang digunakan otak untuk komunikasi di antara sel-selnya.
Jika diibaratkan sebagai sebuah sistem pengelola e-mail, maka otak pada manusia normal memiliki bagian yang berfungsi sebagai spam filter. Hal-hal kecil, random, dan aneh (seperti junk mail) yang seharusnya bisa dibuang dan dilupakan oleh seseorang, dapat menjadi suatu hal yang sangat penting pada penderita OCD, bahkan pentingnya melebihi hal-hal krusial dalam kehidupan. Peristiwa ini disebabkan karena spam filter pada otak penderita OCD tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Seberapa Sering Kasus OCD Terjadi?
Sekitar 2% dari total populasi dunia pernah mengalami OCD dalam hidup mereka. Kasus OCD sedikit lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Beberapa figur publik penderita OCD antara lain:
  • Howard Hughes, jutawan
  • Marthin Luther, reformer
  • John Bunyan, penulis Pilgrim;s Progress
Langkah Pengobatan dan Komplikasi OCD


Seseorang yang menderita OCD biasanya memiliki gangguan yang dipicu oleh kondisi utama, seperti kelainan dalam makan, kelainan bunuh diri, kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan alkohol. Banyak yang berujung pada kehidupan keluarga dan sosial yang berantakan. Berpartisipasi dalam kehidupan sekolah dan kegiatan sosial lainnya mungkin merupakan masalah. Dengan kata lain, seseorang dengan OCD biasanya memiliki kualitas hidup yang buruk.



Tingkat pengobatan OCD bergantung kepada sejauh apa dampak OCD yang Anda alami dalam kehidupan Anda. Ada beberapa langkah dalam penanganan OCD, yaitu:
  • Terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behaviour Therapy (CBT). Terapi ini dapat membantu Anda untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara pikir dan perilaku Anda. CBT menyertakan exposure dan pencegahan response. Teknik ini berdasarkan pemahaman psikologis mengenai OCD; mengenai apa yang menyebabkan gangguan ini terjadi. Terapis akan menolong pasien untuk mengubah rasa tanggung jawabnya yang berlebihan dengan cara membebaskan pasien dalam mengeluarkan apapun yang ia takutkan (proses ini disebut exposure atau behavioral treatment) tanpa melakukan ritual (response prevention). Menghadapi ketakutan dipercaya dapat mempermudah seseorang untuk mengurangi rasa cemasnya.
  • Penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan gejala yang Anda alami
Mencari bantuan medis adalah hal terpenting bagi penderita OCD karena mereka memiliki kemungkinan untuk sembuh atau setidaknya untuk menikmati hidup dengan mengurangi gejalanya.
Jika tidak ditangani, perasaan tertekan dapat bertambah parah dan membuat penderita makin sulit untuk menghadapi OCD sehingga mengalami depresi. Tingkat depresi yang parah bahkan dapat memicu dorongan untuk bunuh diri.



Referensi:






Minggu, 10 April 2016

Kesehatan Mental Carl Rogers


CARL ROGERS
KONSEP KEPRIBADIAN, KEPRIABADIAN SEHAT DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
KONSEP KEPRIBADIAN
Teori Rogers mirip dengan pendekatan Freud dan berbeda dengan Allport yang fokus kepada orang dewasa yang matang, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers menganggap manusia pada dasarnya baik atau sehat dan memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah. Struktur kepribadian manusia itu sendiri, dimana Rogers lebih mementingkan dinamika dari pada struktur kepribadian. Terdapat tiga komponen struktur kepribadian menurut Rogers, yaitu : organisme, medan fenomena, dan self.
Mengenai manusia, Rogers berpendapat bahwa manusia itu bebas, rasional, utuh, mudah berubah, subjektif, proaktif, heterostatis, dan sukar dipahami (Alwisol, 2005 : 333). Yang di katakan rasional yaitu dimana orang-orang yang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaikinya. Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak di kontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak tetapi pengalaman masa lampau tersebut dapat mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis seseorang.
Individu dibimbing oleh persepsi sadar nya tentang diri mereka sendiri dan dunia sekitar. Pengalaman sadar tersebut memberikan kerangka intelektual dan emosional dimana kepribadian teruh-menerus tumbuh. Sehingga adanya Konsep diri (self concept) yang merupakan bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan. Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan “aku” dan membedakan “aku” dari yang bukan aku.
Konsep diri terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
  • Incongruence Incongruence : ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.
  • Congruence : situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.
Dalam pemeriksaannya dengan klien-klien, Rogers mengatakan bahwa kepribadian harus diperiksa dan dipahami melalui segi pandangan pribadi klien dan pengalaman-pengalaman subjektifnye sendiri. Apa yang nyata bagi setiap klien adalah persepsinya yang unik tentang realitas. Realitas ini tergantung pada pengalaman-pengalaman perseptual setiap orang, maka realitas itu akan berbeda untuk setiap orang. Meskipun demikian tenaga pendorong yang paling umum dan utama nya yaitu kecenderungan atau usaha untuk aktualisasi diri.


KEPRIBADIAN SEHAT
Berdasarkan dinamika kepribadian Menurut Rogers, organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang maka ia makin berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Adanya suatu dorongan kebutuhan fudamental dalam sistem kepribadian yaitu memelihara, mengaktualisasikan, dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini sudah ada sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis. Rogers menegaskan bahwa secara alami kecenderungan aktualisasi akan menunjukkan diri melalui rentangan luas tingkah laku, yaitu:
  • Tingkah laku yang berakar pada proses fisiologis, termasuk kebutuhan dasar (makanan, minuman, dan udara), kebutuhan mengembangkan dan merinci fungsi tubuh serta generasi.
  • Tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi psikologis untuk menjadi diri sendiri.
  • Tingkah laku yang tidak meredakan ketegangan tetapi justru meningkatkan tegangan, yaitu tingkah laku yang motivasinya untuk berkembang dan menjadi lebih baik. 

Aktualisasi memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Kecenderungan untuk aktualisasi adalah suatu tenaga pendorong yang sangat kuat untuk individu yang mengalamanin kesakitan pada saat berjuang.

Perbedaan manusia yang sehat dan manusia yang tidak sehat yaitu terlihat pada aktualisasi yang beralih dari fisiologi ke psikologis mulai pada masa kanak-kanak sampai dewasa. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan diri muncul lah suatu pola yang berkaitan. Situasi itu berbeda untuk seorang individu yang mendapat gangguan emosional. Pribadi yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai kapasitas dan bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya.



PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
    Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah menjadi individu yang sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima seseorang pada waktu kecil. Pada anak, dimana anak belajar membutuhkan cinta yang disebut dengan “penghargaan positif”  positive regard. Positive regard, suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, dimiliki semua manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orang-orang lain, tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Apakah anak itu kemudian akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh manakah kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik. Self-concept yang terbentuk pada anak itu sangat dipengaruhi oleh ibunya dalam memberikan positive regard.


Kebutuhan akan positive regard terbagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).



  • Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya  (unconditional positive regard) dimana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya. Anak yang tumbuh dengan perasaan ini tidak akan mengembangkan syarat-syarat penghargaan. Mereka merasa diri berharga dalam semua syarat. Dan jika syarat-syarata tidak ada maka tidak ada kebutuhan untuk bertingkah lagu defensif. Tidak akan ada ketidakharmonisan antara diri dan persepsi terhadap kenyataan serta tidak akan ada pengalaman yang mengancam
  • Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat(conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah dan tidak berharga. Anak merasa suatu perasaan dimana harga diri nya dalam syara-syarat tertentu. Mereka tidak dapat mengaktualisasikan semua segi dari dirinya.


Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.


Lima hal yang harus dimiliki seseorang agar dapat berfungsi sepenuhnya :


Keterbukaan pada pengalaman
Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel, termasuk perasaannya sendiri sehingga selalu timbul persepsi baru. Kalau individu bisa terbuka terhadap perasaannya sendiri maka tidak sulit juga untuk membuka diri untuk aktualisasi. Tentu bagian tersulit di sini adalah membedakan perasaan yang sebenarnya dari kecemasan-kecemasan yang disebabkan oleh syarat-syarat kepatuhan.
Kehidupan Eksistensial
Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya. Menurut Rogers, kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat.
Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
Melihat kepada pengalaman Rogers sendiri. Dia menulis “apabila suatu aktivitas terasa seakan-akan berharga atau perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu dilakukan. Dengan kata lain saya telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya terhadap suatu situasi lebih dapat dipercaya daripada pikiran saya?”.
Dengan kata lain, bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat dapat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. 
Karena seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka, seperti mereka percaya akan diri mereka sendiri.
Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan, dan juga memiliki perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau, karena merasa bebas dan berkuasa maka orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukannya.
Kreativitas
Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Orang yang kreatif kerpakali benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan merka dan memungkinkan mereka mengmbangkan diri mereka sampai ke tingkat paling penuh. Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme merekasendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri-ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam disekitarnya.

Daftar pustaka :
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: KANISUS
















Sabtu, 09 April 2016

Kesehatan Mental Gordon Allport


Gordon allport
KONSEP KEPRIBADIAN, KEPRIABADIAN SEHAT DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
KONSEP KEPRIBADIAN
Allport adalah orang yang lebih optimis daripada Freud mengenai kodrat manusia yang berkaitan dengan pengalaman pada masa kanak-kanak. Berdasarkan pengalaman pribadinya, menurut Allport manusia itu merupakan bentuk yang positif dan penuh harapan, sehingga dari pernyataan tersebut telah menggambarkan definisi dari pribadi yang sehat. Mengenai pengertian kepribadian, kepribadian menurut pandangan Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Allport tidak percaya mengenai orang-orang yang matang dan sehat tersebut dikontrol atau dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar dan kekuatan yang tidak dapat dipengaruhi. Sedangkan kekuatan yang tidak sadar itu merupakan pengaruh yang besar bagi orang-orang neurotis. Perbedaannya dengan individu yang sehat yaitu berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang memimbing dan mengontrol kekuatan tersebut. Seseorang dengan kepribadian yang matang tidak dipengaruhi oleh trauma atau konflik pada masa kanak-kanak sedanngkan neurotis terikat dengan hal tersebut. Individu yang sehat selalu berkembang ke arah masa sekarang oleh intensi dan antisipasi masa depan, pandangan terhadap peristiwa kontemporer yang tidak mundur ke peristiwa masa lampau. 
Dalam pandangan Allport, orang yang neurotis beroperasi dalam genggaman konflik-konflik dan pengalaman kanak-kanak, sedangkan kepribadian yang sehat berfungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebih tinggi. Hal ini mendorong Allport lebih berorientasi pada kesehatan yang membahas mengenai orang dewasa matang daripada orang yang neoritis. 

KEPRIBADIAN SEHAT
Allport adalah salah satu tokoh dari aliran Humanistik. Menurut Humanistsik sendiri, kepribadian yang sehat adalah kemampuan individu dalam mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya sendiri. Ciri dari kepribadian yang sehat yaitu tidak selalu menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengaktualisasikan diri dan motif-motif pada saat dewasa sekarang bukan merupakan bentuk perkembangan dari motif-motif pada saat kecil. Allport menulis bahwa, ”Memiliki tujaun-tujuan jangka panjang yang dilihat sebagai pusat dari kehidupan pribadi seseorang, membedakan manusia dari binatang, orang dewasa dari anak-anak, dan dalam banyak hal kepribadian yang sehat dari kepribadian yang sakit”. 
Kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang perjuangannya ke arah masa depan dan visi itu mempersatukan kepribadian dan membawa orang itu kepada tingkat-tingkat tegangan yang bertambah. Manusia yang sehat selalu membutuhkan sensai atau tantangan-tantangan baru untuk di jadikan pengalaman sehingga manusia bisa tumbuh. Ada segi lain dari konsepsi allport tentang kepribadian sehat yang mungkin kelihatannya paradoks: tujuan-tujuan yang dicita-citakan oleh orang yang sehat pada hakikatnya tidak dapat dicapai. Allport mengemukakan bahwa meskipun subtujuan yang dekat dapat dicapai, namun tujuan terakhir tidak dapat dicapai. Teori Allport tentang dorongan dari kepribadian yang sehat memasukkan juga “prinsip penguasaan dan kemampuan” (principle of mastery and competence) yang berpendapat bahwa orang-orang yang matang dan sehat tidak cukup puas dengan melaksanakan atau mencapai tingkat-tingkat yang sedang atau yang hanya memadai. Mereka didorong untuk melakukan sedapat mungkin, untuk mencapai tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam usaha memuaskan motif-motif mereka. Diri yang sehat mengalami perkembangan, perkembangan proprium sebagai dasar perkembangan kepribadian yang sehat. Proprium dapat didefinisikan dengan sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”, yaitu menunjukan sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Proprium (self) terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Proprium itu berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkatan “diri”. Apabila semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut telah dipersatukan dalam satu konsep proprium. Jadi proprium adalah susunan dari tujuh tingkat “diri” ini. Munculnya proprium ini merupakan suatu prasyarat untuk suatu kepribadian yang sehat. 
  • “Diri”Jasmaniah pada usia 15 bulan muncul tingkat pertama perkembangan proprium diri jasmaniah yaitu kesadaran akan “saya jasmaniah” misalnya bayi membedakan antara jari-jarinya dan sebuah benda yang dipegang dalam jari-jarinya.
  • Identitas diri, adanya perasaan identitas diri. Anak mempelajari namanya, menyadari bahwa bayangan dalam cermin adalah bayangan yang sama seperti yang dilihatnya kemarin, dan percaya bahwa perasaan tentang “saya” atau “diri” tetap bertahan dalam menghadapi pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah. 
  • Harga diri. Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri.
  • Perluasan diri (self extension). Sekitar usia 4 tahun. Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut. Anak berbicara tentang “kepunyaanku”.
  • Gambaran diri. Bagaimana anak melihat dirinya dan pendapat tentang dirinya. Berkembang dari interaksi-interaksi antara orangtua dan anak. Lewat pujian dan hukuman anak belajar bahwa orangtuanya mengharapkan supaya menampilkan tingkah laku-tingkah laku tertentu dan manjauhi tingkah laku-tingkah laku lain. Dengan mempelajari harapan-harapan orangtua, anak mengembangkan dasar untuk suatu perasaan tanggung jawab moral serta untuk perumusan tentang tujuan-tujuan dan intensi-intensi.
  • Diri sebagai pelaku rasional. Setelah anak mulai sekolah, diri sebagai pelaku rasional mulai timbul. Aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman-teman sekolah serta hal yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual. 
  • Perjuangan proprium (propriate striving). Masa adolesensi, perjuangan proprium (propriate striving),. Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri yang baru mengenai tujuan hidup. Pentingnya pencarian ini yakni untuk pertama kalinya orang memperhatikan masa depan, tujuan-tujuan dan impian-impian jangka panjang.
PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
Golden Allport (dalam Notosoedirdjo & Latipun, 2005) menyebut mental yang sehat dengan maturity personality. Dikatakan bahwa untuk mencapai kondisi yang matang itu melalui proses hidup yang disebutnya dengan proses becoming. Orang yang matang jika:
  • Perluasan perasaan diri : memperluas jangkauan ke banyak orang dan benda. Mula-mula diri berpusat hanya pada individu kemudian bertambah luas meliputi nilai-nilai dan citi-cita yang abstrak. Menurut Allport adanya pastisipasi otentik dalam beberapa suasana yang penting serta meluaskan diri dalam aktivitas.
  • Hubungan diri yang hangat dengan orang-orang Lain : Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orangtua, anak, partner, teman akrab. Sehingga menghasilkan suatu perasaan perluasan diri dan perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik. Perasaan terharu adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan-penderitaan, dan kegagalan-kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Hasil dari kapasitas perasaan terharu yaitu kepribadian yang matang, sabar terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya.
  • Keamanan emosional : kepribadian-kepribadian yang sehat mengontrol emosi, sehingga emosi-emosi ini tidak mengganggu aktivitas-aktivitas antarpribadi, emosi-emosi diarahkan kembali ke dalam saluran-saluran yang lebih konstruktif. Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa “sabar terhadap kekecewaan”. 
  • Persepsi realistis : orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif dan menerima realitas sebagaimana adanya.
  • Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas : keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu, suatu tingkat kemampuan. Kita harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.
  • Pemahaman diri : orang yang memilii suatu tingkat pemahaman diri (self objectification) yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.
  • Filsafah hidup yang mempersatukan : Allport menekankan bahwa nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yag sehat dari orang yang neurotis. 

DAFTAR PUSTAKA:
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: KANISUS