Minggu, 27 November 2016

Psikologi Manajemen ( Contoh Kasus Kepemimpinan)


CONTOH KASUS BERDASARKAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL & TRANSAKSIONAL

Contoh 1

Sekolah pada umumnya dan kelas pada khususnya merupakan suatu bentuk komunitas masyarakat sehingga tak luput pula dari fenomena kepemimpinan. Guru yang memiliki kewenangan di kelas sebagai implikasi dari tugasnya dalam mendidik dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin dan siswa yang dididik sebagai orang yang dipimpin. Kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional sebagai sebuah kontinum mengindikasikan bahwa untuk menjadi pemimpin yang transformasional maka harus memiliki kualitas kepemimpinan transaksional. Dengan kata lain, guru yang transformasional harus pula merupakan guru yang transaksional hingga taraf tertentu. 
Sebagai pemimpin transaksional fokus utama guru adalah menjaga stabilitas suasana kelas sehingga kegiatan belajar mengajar lancar. Suasana kelas yang tidak terkendali, banyak terjadi pelanggaran disiplin dapat menghambat kegiatan belajar mengajar. Untuk itu kunci utamanya adalah membuat "aturan main" yang jelas dan memberikan ganjaran kepada siswa jika dapat mengikuti aturan main tersebut. Langkah-langkah yang dapat diambil oleh guru untuk mencapai kualitas kepemimpinan transaksional antara lain mengeksplorasi persepsi,  keinginan dan harapan-harapan siswa terhadap mata pelajaran yang diberikan pada awal pembelajaran. Ini penting sebab ada kemungkinan dikalangan siswa adanya salah persepsi, keinginan dan harapan-harapan yang tidak realistis terhadap suatu mata pelajaran tertentu.
Guru memiliki target dan tujuan yang harus dicapai, siswa mendapat reward atas tercapainya target dan tujuan tersebut. Ganjaran yang diberikan harus spesifik yaitu sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Perlu diingat pula bahwa ganjaran yang diberikan betul-betul yang riel dan dapat diperhitungkan oleh siswa. Ini misalnya memberikan nilai minimal tertentu jika siswa rajin dalam mengikuti mata pelajaran yang diampu guru yang bersangkutan.
Guru sebagai pemimpin transaksional berbeda dengan guru yang otoriter. Guru otoriter meski dapat mengendalikan situasi kelas, tetapi biasanya sering diikuti oleh ketidakpuasan siswa sebab lebih terfokus pada pemberian hukuman jika ada kesalahan yang diperbuat siswa. Perbuatan yang sesuai dengan harapan, di sisi lain, biasanya dibiarkan begitu saja tanpa diberi reward karena dianggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya. Dengan kata lain, tidak ada pertukaran imbal balik yang saling menguntungkan antara guru dengan siswa.
Sedang untuk berperan sebagai guru yang transformasional, kunci utamanya adalah mcnctapkan perubahan minimal yang akan dicapai dalam sebuah sistem kelas yang diajar. Perubahan yang dimaksud secara khusus adalah perubahan perilaku siswa kearah yang lebih baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Guru berfokus pada upaya-upaya untuk mencapai perubahan tersebut. Upaya yang dapat dilakukan antara lain membangun visi dan misi dari suatu kegiatan belajar mengajar mata pelajaran tertentu. Siswa diajak untuk membayangkan kondisi masa depan yang hendak dicapai setelah mengikuti mata pelajaran tersebut secara individual. Siswa diberi kebebasan dalam menetapkan cara-cara yang hendak digunakan untuk mencapai kondisi tersebut.
Guru yang transformasional juga harus mampu mendorong siswa untuk melakukan inovasi-inovasi terkait dengan kegiatan belajar mata pelajaran yang ditekuni siswa. Inovasi memerlukan kreativitas. Untuk dapat kreatif maka harus membiasakan diri berpikir divergen. Berpikir divergen adalah proses berpikir yang tnenghasilkan alternatif yang beraneka macam. 

Contoh 2
Sri Mulyani adalah seorang pemimpin transformasional dan sekaligus pemimpin transaksional yang berkarakter, dia memegang teguh etika kerjanya dan memiliki integritas yang kuat sehingga terkenal sebagai pemimpin yang bersih dari faktor KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Dia berani mengambil resiko, melawan arus birokrasi yang ada yang sudah berjalan bertahun-tahun dan mengakar dengan kuat dengan cara melakukan pembaharuan dan reformasi proses birokrasi di departemen keuangan dan departemen terkait lainnya, seperti bea cukai, perpajakan, yang terkenal kuat dengan citra KKN. SMI juga menerapkan sistem reward dan punishment untuk memacu proses reformasi birokrasi  (misal; menaikkan pendapatan pegawai departemen keuangan tetapi menekankan transparansi dan akuntabilitas pegawai; mendorong setiap daerah agar menerapkan desentralisasi fiskal tetapi juga bersikap tegas ketika ada daerah yang terlambat membelanjakan anggaran). Tidaklah mengherankan bila kemudian dia mendapatkan beberapa penghargaan internasional atas prestasinya memimpin departemen keuangan dan sebagai mentri koordinator perekonomian sebagai mentri keuangan terbaik Asia tahun 2006, dan beberapa penghargaan internasional lainnya yang sangat membanggakan bangsa Indonesia.
SMI menjalankan gaya kepemimpinan yang transaksional dan transformasional pada saat yang bersamaan selama masa kepemimpinannya. Kepemimpinan transaksionalnya terlihat pada saat dia menekankan agar  pegawainya bersikap terbuka, akuntabel dan melayani publik dan dia juga memberikan peningkatan remunerasi sebagai imbalannya, sedangkan untuk kepemimpinan transformasionalnya saat dia melakukan pembaharuan dan reformasi birokrasi didepartemen-departemen yang dipimpinnya, dia memberikan contoh tentang apa yang harus dilakukan, dia mendorong agar anak buahnya menjadi lebih baik dan bertransformasi meninggalkan citra yang buruk, dia menginspirasi orang banyak untuk mempertahankan inegritas dan etika yang baik sebagai pejabat publik.
SMI juga telah membuktikan bahwa dia mempunyai kualitas-kualitas dan cirri-ciri sebagai pemimpin yang efektif; seperti berintegritas, beretika, mempunyai visi dan misi yang jelas, berani membuat tindakan/keputusan, berani menempuh resiko, memberikan rewards dan punishment, membawa dan melakukan perubahan, memenuhi target yang diharapkan, dan bertanggung-jawab dan akuntabel atas keputusannya, serta masih banyak lagi kualitas lainnya. Dari segi kompetensi inti atau skill, SMI memiliki intelektualitas dan pengalaman dibidang perekonomian dan dunia internasional yang sangat baik bahkan diakui oleh pihak internasional serta memiliki kemampuan konseptual yang baik.

Daftar Pustaka:
Kompas.com. 7 Mei 2010. Kepemimpinan SM Diakui Dunia Internasional. Jakarta.http://properti.kompas.com/read/2010/05/07/19341282/Kepemimpinan.SM.Diakui.Internasional(diakses 30 november 2010).
Purnami, Sari. (2004). Guru Sebagai Pimpinan Transaksional dan Transformasional di dalam Kelas. Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. 1, No. 1.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar