KESEHATAN
MENTAL
Kesehatan
mental adalah kondisi dimana jiwa atau batin seseorang berada dalam keadaan
tentram dan tenang, sehingga berhasil menjalani dan menyesuaikan diri dalam
kehidupan sehari-hari serta mampu membentuk hubungan yang positif dengan orang
lain. Individu yang sehat secara mental mampu mengaktualisasikan dirinya di
lingkungan sekitar.
Kesehatan Mental Menurut Behavioristik
Teori
behavioristik menyatakan bahwa perilaku manusia terjadi karena hasil dari
proses belajar seumur hidup. Behaviorisme merupakan orientasi teoritis yang
didasarkan pada premis. Teori behaviorisme dicetuskan oleh John B.Watson,
dimana teori ini terbagi menjadi:
- Teori Kepribadian Klasikal
Di cetus oleh Juan
Petrovich Pavlov (1849-1936) yaitu membahas perilaku yang dipengaruhi oleh
respons yang tidak terkondisi UCR dan stimulus yang tidak
terkondisi UCS. Dalam eksperimennya Pavlov menggunakan anjing sebagai
binatang percobaan, di mana memberikan stimulus yang tak terkondisi secara
bersamaan dengan stimulus alami sehingga menjadi stimulus terkondisi yang
menimbulkan repsons terkondisi pada anjing (air liur).
- Teori Kepribadian Operant
Di cetus oleh Burrhus Frederick
Skinner (1994-1990). Terdapat stimulus dan respons tak terkondisikan serta
stimulus dan respon yang terkondisi. Bedanya pada Skinner tikus aktif mengubah
situasi dengan melakukan tingkah laku operant
untuk mendapatkan reward.
Teori belajar behavioristik adalah teori
yang di pelopori oleh Gage dan Berliner mengenai
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Aliran
behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu sistem
kompleks yang berperilaku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam
pandangan kaum behavioristik, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang
bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas,
kegembiraan hidup, dan berkreativitas. Behavioristik menganggap perilaku
yang mencerminkan mental yang sehat yaitu ketika individu tersebut mampu
mengaplikasikan pengalamannya dengan baik dalam menghadapi masalah dan juga
mampu menghadapi penyebab-penyebab gangguan mental di dalam kehidupan.
Kepribadian Sehat Menurut
Behavioristik :
- Manusia adalah makhluk perespon; lingkungan mengontrol perilaku.
- Manusia tidak memiliki sikap diri sendiri
- Mementingkan faktor lingkungan
- Menekankan pada faktor bagian
- Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
- Sifatnya mekanis mementingkan masa lalu.
- Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak.
- Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
- Pelopor utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
- Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
- Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
- Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.
Kesehatan Mental
Menurut Humanistik
Psikologi humanistik mengarahkan perhatiannya pada
humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia, yaitu berfokus
pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam
mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka.
Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan
perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan
perilaku mereka. Menurut Abraham Maslow psikologi harus mempelajari ke dalam
sifat manusia, mempelajari yang nampak, juga mempelajari perilaku yang tidak
nampak; mempelajari ketidaksadaran sekaligus kesadaran dan semua manusia
memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk
mengaktualisasikan-diri. Berikut 5 kebutuhan dasar dari yang
rendah ke tingkat yang tinggi menurut Maslow :
Dalam pandangan Maslow,seseorang yang memiliki
kepribadian yang sehat, apabila dia telah mampu untuk mengaktualisasikan
dirinya secara penuh. Pencapaian aktualisasi diri dapat tercapai apabila empat
kebutuhan yang berada dibawah terpenuhi. Sementara itu, motivasi bagi orang
yang tidak mampu mengaktualisasikan dirinya dinamai D motivation atau deficiency.
Di bawah ini ciri-ciri dari metaneeds dan metapologi :
· Metanees : Sikap
percaya, bijak dan baik, indah (estetis), kesatuan (menyeluruh), energik dan optimis,
pasti, lengkap, adil dan altruis, berani, sederhana (simple).
· Metapologis : Tidak
percaya, sinis dan skeptic, benci dan memuakkan, vulgar dan mati rasa,
disintegrasi, kehilangan semangat hidup, pasif dan pesimis, kacau dan tidak
dapat diprediksi, tidak lengkap dan tidak tuntas, suka marah-marah, tidak adil
dan egois, rasa tidak aman dan memerlukan bantuan, sangat komplek dan
membingungkan.
Berikut ciri-ciri individu yang memiliki kepribadian
yang sehat menurut Maslow:
- Mengamati Realitas Secara Efisien
Orang-orang
yang sangat sehat mengamati objek-objek dan orang-orang di dunia sekitarnya secara
objektif, teliti terhadap orang lain, mampu menemukan dengan cepat penipuan dan
ketidakjujuran. Semakin objektif kita mampu menggambarkan kenyataan, maka
semakin baik kemampuan kita untuk berpikir secara logis, untuk mencapai
kesimpulan-kesimpulan yang tepat, dan pada umumnya untuk menjadi efisien secara
intelektual.
- Penerimaan Umum atas Kodrat, Orang-orang Lain dan Diri Sendiri
Yaitu
orang yang menerima diri mereka, kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatan mereka
tanpa keluhan atau kesusahan. Meskipun individu-individu yang sangat sehat ini
memiliki kelemahan–kelemahan atau cacat-cacat, tetapi mereka tidak merasa malu
atau merasa bersalah terhadap hal-hal tersebut.Karena orang-orang sehat ini
begitu menerima kodrat mereka, maka mereka tidak harus mengubah atau memalsukan
diri mereka.
- Spontanitas, Kesederhanaan, Kewajaran
Pengaktualisasi
diri bertingkah laku secara terbuka dan langsung tanpa berpura-pura, bertingkat
laku secara kodrati.
- Fokus pada Masalah-masalah di Luar Diri Mereka
Orang yang mengaktualisasikan diri mencintai
pekerjaan mereka dan berpendapat bahwa pekerjaan itu tentu saja cocok untuk
mereka. Pekerjaan mereka adalah sesuatu yang ingin mereka lakukan, tidak
semata-mata suatu pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Mereka tidak
melakukan pekerjaan untuk mendapatkan uang, popularitas atau kekuasaan, tetapi
karena pekerjaan itu memuaskan metakebutuhan. Menantang dan mengembangkan
kemampuan-kemempuan mereka, menyebabkan mereka tumbuh sampai pada tingkat
potensi mereka yang paling tinggi, dan membantu merumuskan pengertian mereka
tentang diri mereka siapa dan apa.
- Kebutuhan akan Privasi dan Independensi
Memiliki
suatu kebutuhan untuk memisahkan diri dan kesunyian, bukan berarti menjauhkan
diri dari kontak dengan manusia, mereka hanya tidak membutuhkan orang lain.
Adanya perasaan egosentris yang terarah pada diri sendiri, kemampuan untuk
membentuk pikiran, mencapai keputusan,dorongan dan disiplin diri sendiri.
- Berfungsi secara Otonom
Pengaktualisasian diri untuk berfungsi secara
otonom terhadap lingkungan sosial dan fisik. Kepribadian yang sehat dapat
berdiri sendiri dan tingkat otonomi mereka yang tinggi menaklukan mereka, agak
tidak mempan terhadap krisis atau kerugian. Kemalangan yang dapat mengahancurkan
orang yang sehat mungkin hampir tidak dirasakan oleh mereka. Mereka
mempertahankan suatu ketenangan dasar di tengah apa yang dilihat oleh
orang-orang yang kurang sehat sebagai malapetaka.
- Apresiasi yang Senantiasa Segar
Menghargai pengalaman-pemgalaman dengan suatu
perasaan kenikmatan, perasaan terpesona dan kagum. Suatu pandangan yang bagus
atau menyegarkan akan mendorongan untuk bekerja.
- Pengalaman-pengalaman Mistik atau “Puncak”
Dimana orang-orang yang mengaktualisasikan
diri mengalami ekstase, kebahagiaan, perasaan terpesona yang hebat dan
meluap-luap, sama seperti pengalaman-pengalaman keagamaan yang mendalam. Maslow
menunjukan bahwa tidak semua pengalaman puncak itu sangat kuat; dapat juga ada
pengalaman- pengalaman yang ringan. Akan tetapi individu yang lebih sehat
memiliki pengalaman-pengalaman puncak lebih sering dari pada orang- orang
biasa, dan mungkin sering kali terjadi setiap hari.
- Minat Sosial
Memilik
perasaan empati dan afeksi yang kuat dan juga suatu keinginan untuk membantu.
- Hubungan Antarpribadi
Mampu
mengadakan hubungan yang lebih kuat dengan orang lain, memiliki cinta yang
lebih besar dan persahabatan yang lebih dalam, dan indentifikasi yang lebih
sempurna dengan individu-individu lain. Cinta mereka bukan cinta yang egoistic, dimana
memberi cinta sekurang- kurangnya sama pentingnya dengan menerima cinta dimana
perhatian seseorang terhadap pertumbuhan dan perkembangan orang lain adalah
sebanyak perhatian terhadap pertumbuhan diri sendiri.
- Struktur Watak dan Demokratis
Orang yang sehat membiarkan dan menerima
semua orang tanpa memperhatikan kelas social, tingkat pendidikan, golongan
politik atau agama, ras, atau warna kulit. Mereka sangat siap mendengarkan atau
belajar dari dari siapa saja yang dapat mengajarkan sesuatu kepada mereka.
- Perbedaan antara Sarana dan Tujuan, antara Baik dan Buruk
Dapat membedakan dengan jelas antara sarana
dan tujuan. Bagi mereka, tujuan atau cita- cita jauh lebih penting daripada
sarana untuk mencapainya.mereka juga sanggup membedakan antara baik dan buruk,
benar dan salah.
- Perasaan Humor yang Tidak Menimbulkan Permusuhan
Humor pengaktualisasi-pengaktualisasi diri
bersifat filosofis, humor yang menertawakan manusia, pada umumnya, tetapi bukan
kepada seseorang yang khusus. Humor ini kerap kali bersifat intruktif, yang
dipakai langsung kepada hal yang dituju dan juga menyimpulkan tertawa.
- Kreativitas
Pengaktualisasi- pengaktualisaasi diri mereka
adalah asli, inventif, dan inovatif, meskipun tidak selalu dalam pengertian
menghasilkan suatu karya seni. Maka kreatifitas lebih merupakan suatu sikap,
suatu ungkapan kesehatan psikologis dan lebih mengenai cara bagaimana kita
mengamati dan beraksi terhadap dunia dan bukan mengenai hasil-hasil yang sudah
selesai dari suatu karya seni.
- Resistensi terhadap Inkulturasi
Pengaktualisasi – pengaktualisasi diri dapat
berdiri sendiri atau pun otonom, mampu melawan dengan baik pengaruh- pengaruh
sosial, untuk berpikir atau bertindak menurut cara- cara tertentu. Akan tetapi mereka
tidak terus terang menentang kebudayaan.
Daftar Pustaka :
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Depok: PT.Kanisius.
Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar