Sabtu, 02 Mei 2015

Tugas Psikologi Umum


Gampang Marah Pada Saat Lapar ?

Kenapa sih orang gampang marah pada saat lapar ? contoh nya si A yang belum sarapan pada saat mau berangkat kerja. Kondisi hari itu si A sibuk untuk mengerjakan laporan sehingga makan siang nya terundur. A sudah merasakan lapar sehingga dia terbawa emosi, si A bisa saja marah kepada diri sendiri, orang lain ,atau karena sebuah peristiwa.

Kenapa A gampang marah saat dia lapar ?
Kemarahan itu bisa saja disebabkan karena keluhan dan penderitaan pada saat lapar, yang di awali dengan perut keroncongan, lalu menjadi lelah, dan mudah tersinggung.

Dikarenakan orang yang merasa lapar dalam jangka waktu tertentu akan mengalami gangguan kadar gula di dalam darah menurun, sehingga menyebabkan pasokan glukosa ke otak menjadi kurang. Karena glukosa juga di kirim ke otak sebagai sumber energi yang mengontrol emosi negatif dan juga kekurang kadar gula di dalam darah akan membuat seseorang merasa lemah, kelelahan, rasa cemas, dan sakit kepala. Selain karena kurangnya glukosa, tingkat serotonin dalam tubuh yang rendah juga dapat menyebabkan orang mudah tersinggung dan marah. Serotonin adalah hormon yang berfungsi mengontrol suasana hati, nafsu makan, dan tidur, juga perasaan bahagia. Hormon ini bekerja melalui proses disintesis dengan bantuan asam amino yang disebut triptofan. Sayangnya, triptofan ini tidak terbentuk di dalam tubuh melainkan melalui pasokan makanan yang kita konsumsi. Jadi kalau si A sudah sensi, buru-buru ajakin makan, apalagi kalau si A dibayarin, pasti langsung berubah 180 derajat.

Emosi yang dirasakan ini merupakan reaksi kompleks yang mengandung tingkatan aktivitas yang tinggi, dan diikuiti perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat. Dapat dikatakan bawah psikologi dan fisiologi itu mempengaruhi perasaan emosional seseorang. Emosi tidak selalu mengacu kepada kekerasan tetapi bisa diungkapkan dalam bahasa, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh.
Emosi pada umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat. Walaupun emosi merupakan perasaan yang mengalami intensitas, sebenarnya orang tetap masih bisa mengontrol dirinya sehingga tidak larut dalam emosi yang tidak terbendung.

Sumber:
Basuki, A.M Heru. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.


Kesalahan Dalam Melihat Horizontal Lines Parallel
Ini adalah pengalaman saya sendiri pada saat melakukan percobaan melihat Horizontal Lines Parallel di Laboratorium Psikologi Faal. Tujuan dari percobaan ini, agar saya dapat mengetahui bahwa balok-balok yang terlihat itu sejajar atau tidak sejajar. Pada saat percobaan dilakukan, saya melihat kertas Horizontal Lines Parallel itu sejajar dan lurus. Dan bagian dalam nya terdapat kubus-kubus dengan ukuran yang sama menurut penglihatan saya. Setelah dilakukan percobaan, hasil yang saya peroleh dengan teman-teman praktikan berbeda. Ada yang mengatakan garis yang di lihat lurus dan ada yang mengatakan garis yang di lihat miring.

Hasil sebenarnya garis tipis horizontal tersebut 100% lurus ! Ya itulah ilusi (optis), ilusi yang ‘menipu’ kita pada pandangan pertama kita melihatnya. Ilusi yang ‘menipu’ seperti itu juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan hasil mungkin disebabkan, setiap manusia memiliki pemahaman dan cara pandang yang berbeda dalam menilai ataupun melihat dunia. Perbedaan pendapat seseorang yang mengatakan bahwa dunia itu “berwarna”, atau “hitam-putih” bisa terjadi akibat dari perbedaan cara otak merespon rangsang yang diterima.

Persepsi manusia sering dikaitkan dengan bagaimana suatu rangsang atau stimulus ditanggapi dan ditafsirkan agar menciptakan kesan pada lingkungannya. Dalam hubungannya dengan sensasi, persepsi bukan hanya sekedar proses penginderaan, karena rasa manis, rasa pahit, sentuhan, sapaan dan sebagainya dapat diinterpretasikan secara amat berbeda tergantung apa yang menyebabkan serta dari konteks yang lebih luas (kebiasaan, selera, dll). 

Terkait dengan proses bagaimana persepsi terbentuk, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemahaman seseorang tentang persepsi. Hal tersebut termasuk diantaranya perhatian yang selektif, ciri-ciri rangsang, nilai dan kebutuhan individu, serta pengalaman terdahulu.

Adanya ilusi merupakan penyebab kesalahan persepsi, yaitu memperoleh kesan yang salah mengenai fakta-fakta objektif yang disajikan oleh alat-alat indera kita. Ilusi lain terjadi karena pesan yang salah arah dari organ-organ indera, seperti terjadi dalam adaptasi sensorik.
Faktor-faktor penyebab Ilusi:
1.      Ilusi yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal
2.      Ilusi karena disebabkan faktor kebiasaan.
3.      Ilusi karena kondisi rangsangan terlalu kompleks

Sumber:
Basuki, Heru. (2008). Psikologi umum.          Jakarta: Salemba Humanika.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar