Kenapa
sih orang gampang marah pada saat lapar ? contoh nya si A yang belum sarapan
pada saat mau berangkat kerja. Kondisi hari itu si A sibuk untuk mengerjakan
laporan sehingga makan siang nya terundur. A sudah merasakan lapar sehingga dia
terbawa emosi, si A bisa saja marah kepada diri sendiri, orang lain ,atau
karena sebuah peristiwa.
Kenapa
A gampang marah saat dia lapar ?
Kemarahan
itu bisa saja disebabkan karena keluhan dan penderitaan pada saat lapar, yang
di awali dengan perut keroncongan, lalu menjadi lelah, dan mudah tersinggung.
Dikarenakan
orang yang merasa lapar dalam jangka waktu tertentu akan mengalami gangguan
kadar gula di dalam darah menurun, sehingga menyebabkan pasokan glukosa ke otak
menjadi kurang. Karena glukosa juga di kirim ke otak sebagai sumber energi yang
mengontrol emosi negatif dan juga kekurang kadar gula di dalam darah akan
membuat seseorang merasa lemah, kelelahan, rasa cemas, dan sakit kepala. Selain
karena kurangnya glukosa, tingkat serotonin dalam tubuh yang rendah juga dapat
menyebabkan orang mudah tersinggung dan marah. Serotonin adalah hormon yang
berfungsi mengontrol suasana hati, nafsu makan, dan tidur, juga perasaan
bahagia. Hormon ini bekerja melalui proses disintesis dengan
bantuan asam amino yang disebut triptofan. Sayangnya, triptofan ini tidak
terbentuk di dalam tubuh melainkan melalui pasokan makanan yang kita konsumsi.
Jadi kalau si A sudah sensi, buru-buru ajakin makan, apalagi kalau si A
dibayarin, pasti langsung berubah 180 derajat.
Emosi
yang dirasakan ini merupakan reaksi kompleks yang mengandung tingkatan
aktivitas yang tinggi, dan diikuiti perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan
dengan perasaan yang kuat. Dapat dikatakan bawah psikologi dan fisiologi itu
mempengaruhi perasaan emosional seseorang. Emosi tidak selalu mengacu kepada
kekerasan tetapi bisa diungkapkan dalam bahasa, ekspresi wajah, dan bahasa
tubuh.
Emosi
pada umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat. Walaupun emosi merupakan
perasaan yang mengalami intensitas, sebenarnya orang tetap masih bisa
mengontrol dirinya sehingga tidak larut dalam emosi yang tidak terbendung.
Sumber:
Basuki, A.M Heru. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Ini
adalah pengalaman saya sendiri pada saat melakukan percobaan melihat Horizontal
Lines Parallel di Laboratorium Psikologi Faal. Tujuan dari percobaan ini, agar
saya dapat mengetahui bahwa balok-balok yang terlihat itu sejajar atau tidak
sejajar. Pada saat percobaan dilakukan, saya melihat kertas Horizontal Lines
Parallel itu sejajar dan lurus. Dan bagian dalam nya terdapat kubus-kubus dengan
ukuran yang sama menurut penglihatan saya. Setelah dilakukan percobaan, hasil
yang saya peroleh dengan teman-teman praktikan berbeda. Ada yang mengatakan
garis yang di lihat lurus dan ada yang mengatakan garis yang di lihat miring.
Hasil sebenarnya
garis
tipis horizontal tersebut 100% lurus ! Ya itulah ilusi (optis), ilusi yang
‘menipu’ kita pada pandangan pertama kita melihatnya. Ilusi yang ‘menipu’
seperti itu juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Perbedaan hasil mungkin disebabkan,
setiap manusia memiliki pemahaman dan cara pandang yang berbeda dalam menilai
ataupun melihat dunia. Perbedaan pendapat seseorang yang mengatakan bahwa dunia
itu “berwarna”, atau “hitam-putih” bisa terjadi akibat dari perbedaan cara otak
merespon rangsang yang diterima.
Persepsi manusia sering dikaitkan
dengan bagaimana suatu rangsang atau stimulus ditanggapi dan ditafsirkan agar
menciptakan kesan pada lingkungannya. Dalam hubungannya dengan sensasi,
persepsi bukan hanya sekedar proses penginderaan, karena rasa manis, rasa
pahit, sentuhan, sapaan dan sebagainya dapat diinterpretasikan secara amat
berbeda tergantung apa yang menyebabkan serta dari konteks yang lebih luas
(kebiasaan, selera, dll).
Terkait dengan proses bagaimana
persepsi terbentuk, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemahaman seseorang
tentang persepsi. Hal tersebut termasuk diantaranya perhatian yang selektif,
ciri-ciri rangsang, nilai dan kebutuhan individu, serta pengalaman terdahulu.
Adanya ilusi merupakan
penyebab kesalahan persepsi, yaitu memperoleh kesan yang salah mengenai
fakta-fakta objektif yang disajikan oleh alat-alat indera kita. Ilusi lain
terjadi karena pesan yang salah arah dari organ-organ indera, seperti terjadi
dalam adaptasi sensorik.
Faktor-faktor
penyebab Ilusi:
1. Ilusi
yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal
2. Ilusi
karena disebabkan faktor kebiasaan.
3. Ilusi
karena kondisi rangsangan terlalu kompleks
Sumber:
Basuki,
Heru. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Salemba Humanika.

