Jumat, 21 Juli 2017

Peran Psikoterapi Dalam Masyarakat

PERAN PSIKOTERAPI DALAM MASYARAKAT

Masyarakat adalah sekelompok individu yang memiliki kepentingan bersama dan memiliki budaya serta lembaga yang khas. Masyarakat juga bisa dipahami sebagai sekelompok orang yang terorganisasi karena memiliki tujuan bersama. (Wikipedia). Kehidupan di dalam masyarakat tentu saja tidak lepas dari dari masalah-masalah sosial yang dapat terjadi dalam masyarakat. Masalah dapat disebabkan karena tidak kesusaian antara unsur-unsur kebudayan atau masyarakat yang akan membahayakan kehidupan sosial dan juga oleh faktor ekonomi (kemiskinan, pengangguran), budaya (perceraian, kenakalan remaja), biologi (mempertahankan diri), dan psikologis (depresi, kelainan syaraf, disorganisasi). Maka dari itu, ilmu psikologi khususnya memelalui bidang psikoterapi memiliki peran penting dalam masyarakat. 
Esensi psikoterapi pada dasarnya adalah memberi bantuan kepada orang lain yang mempunyai problem psikologis. Berbagai bentuk bantuan tersebut sebenarnya dapat ditemui pada setiap masyarakat dari berbagai budaya. Hal ini dapat dilihat dari peranan yang dilakukan oleh para tokoh spiritual, seperti Kyai, Pendeta, sesepuh masyarakat atau pun oknum Shaman dalam masyarakat tradisional. Di kalangan ahli psikologi dan psikiatri, keinginan membantu mengatasi problem kejiwaan kini semakin berkembang pesat.
Sebelum mari kita lihat penjelasan mengenai psikoterapi, psikoterapi adalah pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu “Psyche” yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan “Therapy” yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.

UNSUR DARI PSIKOTERAPI
James dan Prilleltensky mengambil suatu pendekatan transdisiplin dalam menyediakan suatau kerangkan pemahaman dan peningkatan kesehatan jiwa dalam konteks keberagaman budaya, antara lain :
  • Filosofis : agar dapat memahami bahwa nilai-nilai yang secara khusus membentuk sebuah konsep kesehatan mental, visi dari kehidupan dan masyarakat yang baik haruslah bisa diuji.
  • Kontekstual : persoalan-persoalan yang terjadi di daerah dimana masyarakat tertentu menetap. Keterlibatan ilmuwan sosial semakin tinggi apabila mereka berusaha untuk memahami kondisi sosial ekonomi, budaya dan politik dari suatu masyarakat.
  • Norma sosial dan budaya : masalah sosial hanya ditangani pada tingkat individu saja, dan tidak melibatkan masyarakat. Bantuan ditawarkan pada orang-orang yang mengalami penganiayaan dalam bentuk terapi individu.
  • Norma religi/ agama : model pendekatan medis sendiri menyatakan bahwa penderitaan tidak ada artinya apa-apa. Namun pandangan religius percaya bahwa penderitaan akan menguatkan ikatan dengan sesama dan dengan Tuhan.
  • Norma moral : persepsi individu terhadap apa artinya menjadi “orang yang baik”dan “keluarga yang baik”.
Dalam Aliansi Nasional untuk Gangguan Jiwa (NAMI)  menyebutkan langkah-langkah untuk merangkul berbagai budaya yang beragam dalam tujuan untuk menjamin adanya suatu akses setara untuk pendidikan dan pengobatan :
  • Mengidentifikasi kelompok sasaran : untuk dipelajari karakteristik dan sejarah kelompok tersebut.
  • Mengidentifikasi pemimpinan atau tokoh masyarakat setempat: pendekatan bertujuan untuk melihat gambaran kebutuhan masyarakat.
  • Mengidentifikasi organisasi masyarakat yang sudah ada : bekerja sama dengan organisasi untuk dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
  • Memutuskan fokus utama dari aktivitas :mempersiapkan beberapa metode
  • Penyebaran dan publisitas: bertujuan untuk pengumuman adanya pelayanan.

Peran Psikoterapi Dalam Masyarakat
  • Membantu dalam menghadapi masalah penyakit kejiwaan (mental), semakin maju sebuah peradaban maka semakin ramai yang akan menghadapi penyakit mental. Ini menunjukkan bahwa penyakit mental amat dipengaruhi oleh zaman disamping faktor-faktor lainnya. Penyakit mental ini dapat dikaitkan dengan tekanan ataupun stres dan penyakit gila.
  • Membantu dalam penyakit kritis, seperti penyakit kanker, HIV, dan AID. Pasien yang menderita penyakit ini akan sangat tertekan, maka sangat penting memberikan semangat dan dorongan kepada pasien untuk meneruskan hidup.
  • Psikoterapi untuk pencandu narkoba, alkohol, dan zat-zat lainnya. Oleh karena sangat dibutuhkan penyembuhan bagi mereka agar bisa terlepas dari hal tersebut.

Daftar Pustaka:
Baruddin. (2012). Psikoterapi islam dan kesehatan mental. Jurnal Tasamuh, 4, (1),97-106.
Kusnadi, E. Konseling dan psikoterapi dalam isliam. Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi. file:///C:/Users/planet/Downloads/673-1986-1-PB.pdf 

Kamis, 13 Juli 2017

TEKNIK FLOODING PADA PHOBIA

TEKNIK FLOODING DALAM TERAPI PHOBIA

Pada kesempatan ini, saya akan menganalisis salah satu kasus yang berkaitan dengan penggunaan teknik flooding dalam menyembuhkan phobia seseorang.
Terlebih dahulu saya akan menjelaskan kembali teknik flooding, yaitu teknik dimana mendorong pasien berhadapan langsung dengan situasi yang menakutkan, dibiarkan beberapa saat sampai ia menjadi tenang dan menguasai ketakutannya, serta melalui pembayangan situasi menakutkan (teknik Implosi). Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan pada klien.




ANALISIS KASUS

Seorang perempuan berusia 20 tahun yang bernama Meghan memiliki phobia terhadap balon. Untuk mengatasi phobia tersebut, Meghan diberikan teknik terapi flooding, yaitu dimana Meghan dipaparkan secara langsung dengan balon. Pada saat dipaparkan dengan balon, Meghan diberikan sebuah jarum untum meledakkan balon tersebut pada saat dia cemas. Pada vidio ini pemaparan balon dilakukan sebanyak tiga kali dan kecemasan Meghan akan dinilai dari skala 1-10, nilai 10 untuk kecemasan yang paling tinggi.
Pemaparan 1
Meghan terlihat sangat cemas pada saat melihat ada beberapa balon didepannya dan meledakkan balon tersebut secara cepat.

Pemaparan 2
Meghan tampak tidak secemas pemaparan yang pertama dan tetap meledakkan balon, tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari pemaparan yang pertama.

Pemaparan 3
Meghan tidak cemas ketika melihat beberapa balon didepannya dan sudah berani untuk memegang balon tersebut tanpa meledakkannya.

Jadi dengan menggunakan teknik flooding ini, phobia Meghan terhadap balon dapat teratasi. Dengan adanya 3 kali pemaparan, sehingga Meghan tidak memiliki kecemasan lagi terhadap balon.

Selasa, 11 Juli 2017

Teknik Terapi Flooding

Flooding & Implosive Therapy
Salah satu cara untuk menghilangkan respons kecemasan yang terkondisi secara klasik adalah melalui proses penghapusan (extinction). Penghapusan terjadi bila stimulus yang ditakuti (stimulus yang terkondisi) berulang-ulang diberikan dan tidak ada alasan untuk ditakuti (stimulus yang tidak terkondisi). Apabila menggunakan penghapusan sebagai strategi terapi, individu yang menderita fobia diekspos berulang-ulang pada stimulus yang ditakuti, karena pengeksposan kepada stimulus yang mula-mula ditakuti menyebabkan individu dilanda kecemasan, maka teknik terapi ini sering disebut flooding. Individu dipaksa berada dalam situasi yang mencemaskan dan merasakan keseluruhan rasa cemas atau takut, tidak diperkenankan menghindar atau melarikan diri dari keadaan tersebut.
Teknik selanjutnya disebut juga terapi implosi (implosion therapy), yaitu memasukan tekanan secara tiba-tiba, kecemasan yang meningkat secara mendadak bila individu diekspos kepada stimulus yang ditakuti.

Floding dan Implasion adalah terapi induksi kecemasan untuk memadamkan fobia. Salah satu terapi untuk penyembuhan fobia bisa melalui terapi flooding, yaitu dengan menempatkan si penderita dengan objek yang ditakutinya hingga si penderita tersebut tidak mengalami takut lagi terhadap objek tersebut. Ada beberapa bukti bahwa prosedur terapi flooding mungkin lebih efisien daripada perawatan secara tahap demi tahap untuk menangani fobia (Emmelkamp, 1975). Dalam percobaan menggunakan makhluk hidup (in vivo) seperti manusia, dengan menggunakan metode flooding sangat efektif sekali dalam penanganan kepada penderita agoraphobia, specific phobias, dan compulsive disorders (Boudewyns, 2012).
  • Flooding adalah teknik membanjiri klien dengan situasi atau penyebab kecemasan atau tingkah laku tidak dikendaki dan tidak membiarkan klien untuk melarikan diri, sampai klien sadar bahwa yang dicemaskan tidak terjadi.
  • Implasion adalah mewajibkan klien untuk membayangkan hal yang tidak nyata, berlebihan atau peristiwa berbahaya yang berkaitan dengan fobia.

Prinsip dasar : meloloskan diri dari pengalaman yang menimbulkan kecemasan akan memperkuat kecemasan melalui pembiasaan.

Teknik :
  • Mendorong pasien berhadapan langsung dengan situasi yang menakutkan, dibiarkan beberapa saat sampai ia menjadi tenang dan menguasai ketakutannya
  • Melalui pembayangan situasi menakutkan (teknik Implosi). Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan pada klien.
Kontra Indikasi : Kecemasan yang kuat akan membahayakan. Flooding harus dilakukan dengan hati-hati karena mungkin akan terjadi reaksi emosi sangat tinggi. 

DAFTAR PUSTAKA

Boudewyns, P.A. (2012). Eye movement Desensitization and Reprocessing for combat-related PTSD: an early look. Los Angeles, CA : American Psycological Association.
Emmelkamp, P.M.G., Kamphuis, J.H. (2007). Personality Disorder. London: Psychology Press/Taylor&Francis.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: KANISIUS.

Minggu, 27 November 2016

Psikologi Manajemen ( Contoh Kasus Kepemimpinan)


CONTOH KASUS BERDASARKAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL & TRANSAKSIONAL

Contoh 1

Sekolah pada umumnya dan kelas pada khususnya merupakan suatu bentuk komunitas masyarakat sehingga tak luput pula dari fenomena kepemimpinan. Guru yang memiliki kewenangan di kelas sebagai implikasi dari tugasnya dalam mendidik dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin dan siswa yang dididik sebagai orang yang dipimpin. Kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional sebagai sebuah kontinum mengindikasikan bahwa untuk menjadi pemimpin yang transformasional maka harus memiliki kualitas kepemimpinan transaksional. Dengan kata lain, guru yang transformasional harus pula merupakan guru yang transaksional hingga taraf tertentu. 
Sebagai pemimpin transaksional fokus utama guru adalah menjaga stabilitas suasana kelas sehingga kegiatan belajar mengajar lancar. Suasana kelas yang tidak terkendali, banyak terjadi pelanggaran disiplin dapat menghambat kegiatan belajar mengajar. Untuk itu kunci utamanya adalah membuat "aturan main" yang jelas dan memberikan ganjaran kepada siswa jika dapat mengikuti aturan main tersebut. Langkah-langkah yang dapat diambil oleh guru untuk mencapai kualitas kepemimpinan transaksional antara lain mengeksplorasi persepsi,  keinginan dan harapan-harapan siswa terhadap mata pelajaran yang diberikan pada awal pembelajaran. Ini penting sebab ada kemungkinan dikalangan siswa adanya salah persepsi, keinginan dan harapan-harapan yang tidak realistis terhadap suatu mata pelajaran tertentu.
Guru memiliki target dan tujuan yang harus dicapai, siswa mendapat reward atas tercapainya target dan tujuan tersebut. Ganjaran yang diberikan harus spesifik yaitu sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Perlu diingat pula bahwa ganjaran yang diberikan betul-betul yang riel dan dapat diperhitungkan oleh siswa. Ini misalnya memberikan nilai minimal tertentu jika siswa rajin dalam mengikuti mata pelajaran yang diampu guru yang bersangkutan.
Guru sebagai pemimpin transaksional berbeda dengan guru yang otoriter. Guru otoriter meski dapat mengendalikan situasi kelas, tetapi biasanya sering diikuti oleh ketidakpuasan siswa sebab lebih terfokus pada pemberian hukuman jika ada kesalahan yang diperbuat siswa. Perbuatan yang sesuai dengan harapan, di sisi lain, biasanya dibiarkan begitu saja tanpa diberi reward karena dianggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya. Dengan kata lain, tidak ada pertukaran imbal balik yang saling menguntungkan antara guru dengan siswa.
Sedang untuk berperan sebagai guru yang transformasional, kunci utamanya adalah mcnctapkan perubahan minimal yang akan dicapai dalam sebuah sistem kelas yang diajar. Perubahan yang dimaksud secara khusus adalah perubahan perilaku siswa kearah yang lebih baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Guru berfokus pada upaya-upaya untuk mencapai perubahan tersebut. Upaya yang dapat dilakukan antara lain membangun visi dan misi dari suatu kegiatan belajar mengajar mata pelajaran tertentu. Siswa diajak untuk membayangkan kondisi masa depan yang hendak dicapai setelah mengikuti mata pelajaran tersebut secara individual. Siswa diberi kebebasan dalam menetapkan cara-cara yang hendak digunakan untuk mencapai kondisi tersebut.
Guru yang transformasional juga harus mampu mendorong siswa untuk melakukan inovasi-inovasi terkait dengan kegiatan belajar mata pelajaran yang ditekuni siswa. Inovasi memerlukan kreativitas. Untuk dapat kreatif maka harus membiasakan diri berpikir divergen. Berpikir divergen adalah proses berpikir yang tnenghasilkan alternatif yang beraneka macam. 

Contoh 2
Sri Mulyani adalah seorang pemimpin transformasional dan sekaligus pemimpin transaksional yang berkarakter, dia memegang teguh etika kerjanya dan memiliki integritas yang kuat sehingga terkenal sebagai pemimpin yang bersih dari faktor KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Dia berani mengambil resiko, melawan arus birokrasi yang ada yang sudah berjalan bertahun-tahun dan mengakar dengan kuat dengan cara melakukan pembaharuan dan reformasi proses birokrasi di departemen keuangan dan departemen terkait lainnya, seperti bea cukai, perpajakan, yang terkenal kuat dengan citra KKN. SMI juga menerapkan sistem reward dan punishment untuk memacu proses reformasi birokrasi  (misal; menaikkan pendapatan pegawai departemen keuangan tetapi menekankan transparansi dan akuntabilitas pegawai; mendorong setiap daerah agar menerapkan desentralisasi fiskal tetapi juga bersikap tegas ketika ada daerah yang terlambat membelanjakan anggaran). Tidaklah mengherankan bila kemudian dia mendapatkan beberapa penghargaan internasional atas prestasinya memimpin departemen keuangan dan sebagai mentri koordinator perekonomian sebagai mentri keuangan terbaik Asia tahun 2006, dan beberapa penghargaan internasional lainnya yang sangat membanggakan bangsa Indonesia.
SMI menjalankan gaya kepemimpinan yang transaksional dan transformasional pada saat yang bersamaan selama masa kepemimpinannya. Kepemimpinan transaksionalnya terlihat pada saat dia menekankan agar  pegawainya bersikap terbuka, akuntabel dan melayani publik dan dia juga memberikan peningkatan remunerasi sebagai imbalannya, sedangkan untuk kepemimpinan transformasionalnya saat dia melakukan pembaharuan dan reformasi birokrasi didepartemen-departemen yang dipimpinnya, dia memberikan contoh tentang apa yang harus dilakukan, dia mendorong agar anak buahnya menjadi lebih baik dan bertransformasi meninggalkan citra yang buruk, dia menginspirasi orang banyak untuk mempertahankan inegritas dan etika yang baik sebagai pejabat publik.
SMI juga telah membuktikan bahwa dia mempunyai kualitas-kualitas dan cirri-ciri sebagai pemimpin yang efektif; seperti berintegritas, beretika, mempunyai visi dan misi yang jelas, berani membuat tindakan/keputusan, berani menempuh resiko, memberikan rewards dan punishment, membawa dan melakukan perubahan, memenuhi target yang diharapkan, dan bertanggung-jawab dan akuntabel atas keputusannya, serta masih banyak lagi kualitas lainnya. Dari segi kompetensi inti atau skill, SMI memiliki intelektualitas dan pengalaman dibidang perekonomian dan dunia internasional yang sangat baik bahkan diakui oleh pihak internasional serta memiliki kemampuan konseptual yang baik.

Daftar Pustaka:
Kompas.com. 7 Mei 2010. Kepemimpinan SM Diakui Dunia Internasional. Jakarta.http://properti.kompas.com/read/2010/05/07/19341282/Kepemimpinan.SM.Diakui.Internasional(diakses 30 november 2010).
Purnami, Sari. (2004). Guru Sebagai Pimpinan Transaksional dan Transformasional di dalam Kelas. Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. 1, No. 1.







Jumat, 25 November 2016

Psikolgi Manajemen (Kepemimpinan)

KEPEMIMPINAN


DEFENISI KEPEMIMPINAN
Apakah kamu tahu arti kepemimpinan?  Menurut sejarah, masa “kepemimpinan” muncul pada abad 18. Ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain:
  • Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk  mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
  • Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
  • Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
  • Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
  • Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).

Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut

JENIS-JENIS KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan Transaksional
Pengertian
Model kepemimpinan yang terjadi ketika pola relasi antara pemimpin dengan konstituen, maupun antara pemimpin dengan elit politik lainnya dilandasi oleh semangat pertukaran kepentingan ekonomi atau politik untuk memelihara atau melanjutkan status quo (Burns 1978).
Menurut Bycio dkk. (1995) serta Koh dkk. (1995), Kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpin memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran. Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klasifikasi sasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan. Kepemimpinan Transaksional dapat diartikan sebagai cara yang digunakan seorang pemimpin dalam menggerakkan anggotanya dengan menawarkan imbalan/akibat terhadap setiap kontribusi yang diberikan oleh anggota kepada organisasi.
Karakteristik Kepemimpinan Transaksional
  • Pengadaan Imbalan, pemimpin menggunakan serangkaian imbalan untuk memotivasi para anggota. Imbalannya berupa kebutuhan tingkat fisiologis (Maslow).
  • Eksepsi/pengecualian, dimana pemimpin akan memberi tindakan koreksi atau pembatalan imbalan atau sanksi apabila anggota gagal mencapai sasaran prestasi yang ditetapkan

Kepemimpinan Transformasional
Pengertian
Keller (1992) mengemukakan bahwa Kepemimpinan Transformational adalah sebuah gaya kepemimpinan yang mengutamakan pemenuhan terhadap tingkatan tertinggi dari hirarki Maslow yakni kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri.
Kepemimpinan transformasional inilah yang sungguh-sungguh diartikan sebagai kepemimpinan yang sejati karena kepemimpinan ini sungguh bekerja menuju sasaran pada tindakan mengarahkan organisasi kepada suatu tujuan yang tidak pernah diraih sebelumnya. Para pemimpin secara riil harus mampu mengarahkan organisasi menuju arah baru (Locke, 1997).
Karakteristik Kepemimpinan Transformasional
  • Adanya pemberian wawasan serta penyadaran akan misi,membangkitkan kebanggaan, serta menumbuhkan sikap hormat dan kepercayaan pada para bawahannya (Idealized Influence -Charisma)
  • Adanya proses menumbuhkan ekspektasi yang tinggi melalui pemanfaatan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha dan mengkomunikasikan tujuan-tujuan penting dengan cara yang sederhana (Inspirational Motivation),
  • Adanya usaha meningkatkan intelegensia, rasionalitas, dan pemecahan masalah secara seksama (Intellectual Stimulation),
  • Pemimpin memberikan perhatian, membina, membimbing, dan melatih setiap orang secara khusus dan pribadi (IndividualizedConsideration).


Kepemimpinan Transaksional
·         Berdasarkan keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan
·         Dimulai dengan kekuatan, posisi dan politik
·         Berdasarkan kejadian sehari-hari
·         Pencapaian tujuan jangka pendek dan orientasi pada data yang nyata
·         Fokus pada masalah taktis
·         Mengandalkan hubungan yang baik untuk interaksi antar sesame
·         Memenuhi peran yang diharapkan melalui kerja yang efektif sesuai dengan sistem
·         Mendukung sistem dan struktur yang menghasilkan dan memaksimalkan efisiensi dan menjamin keuntungan dalam jangka pendek
Kepemimpinan Transformasional
·         Berdasarkan kebutuhan seseorang untuk suatu arti
·         Dimulai dengan tujuan dan nilai-nilai, moral dan etika
·         Lebih dari (diatas) kejadian sehari-hari
·         Pencapaian tujuan jangka panjang tanpa mengkompromikan nilai-nilai dan prinsip
·         Fokus pada misi dan strategi
·         Mengarahkan potensi; identifikasi dan pengembangan sumber daya
·         Mendesain dan me-re-desain pekerjaan supaya menjadi lebih berarti dan menantang
·         Menyesuaikan struktur dan sistem internal untuk pencapaian nilai dan tujuan



TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN
1.Tipe Otokratis. Ciri-cirinya antara lain: Mengandalkan kepada kekuatan / kekuasaan, menganggap dirinya paling berkuasa, keras dalam mempertahankan prinsip, jauh dari para bawahan dan perintah diberikan secara paksa
2.Tipe Laissez Faire. Ciri-ciri antara lain : Memberi kebebasan kepada para bawahan, pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan, semua pekerjaan dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan, tidak mempunyai wibawa, dan tidak ada koordinasi dan pengawasan yang baik
3. Tipe Paternalistik. Ciri-ciri antara lain : Pemimpin bertindak sebagai bapak, memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum dewasa, selalu memberikan perlindungan, dan keputusan ada ditangan pemimpin.
4. Tipe Militerlistik. Ciri-ciri antara lain : Dalam komunikasi menggunakan saluran formal, menggunakan sistem komando/  perintah, segala sesuatu bersifat formal dan disiplin yang tinggi, kadang bersifat kaku
5. Tipe Demokratis. Ciri-ciri antara lain : Berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi, bersifat terbuka, bawahan diberi kesempatan untuk memberi saran dan ide- ide baru, dalam pengambilan keputusan utamakan musyawarah untuk mufakat dan menghargai potensi individu
6.Tipe Open Leadership Tipe ini hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya terletak dalam hal pengambilan keputusan. Dalam tipe ini keputusan ada ditangan pemimpin.

TEORI KEPEMIMPINAN

1. Teori Kelebihan
2. Teori Sifat
3. Teori Keturunan
4. Teori Kharismatis
5. Teori Bakat
6. Teori Sosial.

DAFTAR PUSTAKA:

Sukanto R & T. Hani Handoko. Organisasi Perusahaan. PBFE, Yogyakarta. 2000.
Widyatmini & Izzati A. Pengantar Organisasi dan Metode, Gunadarma, Jakarta, 1995.
www.kmpk.ugm.ac.id/data/SPMKK/5a-KEPEMIMPINAN(revDes'02).doc.




Kamis, 20 Oktober 2016

PSIKOLOGI MANAJEMEN

DEFENISI KOMUNIKASI, DIMENSI KOMUNIKASI, & PERAN PSIKOLOGI MANAJEMEN DALAM ORGANISASI

DEFENISI KOMUNIKASI
Kata “komunikasi” mungkin sudah tidak asing lagi untuk kita dengar karena dalam kehidupan sehari-hari sebagai makhluk sosial komunikasi merupakan suatu hal yang tidak mungkin di lepas dari kehidupan sosial. Banyak hal yang terlintas pada saat kita mendengar atau membahas kata komunikasi tersebut, kita bisa saja mengartikan komunikasi itu sebagai bentuk percakapan, interaksi sesama orang di sebuah lingkungan. Banyak sekali arti yang bisa menjelaskan mengenai komunikasi tersebut, tertapi disini saya akan memperkuat dengan tokoh yang mendefenisikan komunikasi. 
Menurut (Edwin Emery), komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide, dan sikap seseorang kepada orang lain. Menurut Wilbur Schrarmm menyatakan komunikasi sebagai suatu proses berbagi (sharing process). Jadi dapat dikatakan pada saat kita berkomunikasi maka kita akan berusahan menumbuhkan rasa kebersamaan agar saling berbagi informasi.

DIMENSI-DIMENSI KOMUNIKASI
1. Isi
Dimensi isi adalah dimensi yang identik dengan verbal. Isi dimensi ini memuat apa yang dibicarakan atau pesan individu dalam berkomunikasi antara satu individu dengan individu lain maupun kelompok. Misalnya, adanya komunikasai atau pembicaraan antara psikolog dengan pasiennya mengenai suatu masalah, pembicaraan tersebut mempunyai suatu isi. Contohnya, mereka sedang membahas (isi) permasalahan kekerasan seksual yang pasien alami. Perlu diketahui juga bahwa kita dapat membedakan kategori dari jenis isi tersebut, misalnya isi tersebut merupakan fakta atau merupakan sebuah perasaan.
2. Kebisingan
Kebisingan adalah bunyi-bunyi yang tidak dikehendaki seperti tinggi rendahnya suara yang terdengar dalam melakukan komunikasi. Efek kebisingan terhadap kesehatan dapat meningkatkan sensitivitas tubuh berupa peningkatan sistem kardiovaskuler seperti kenaikan tekanan darah dan denyut jantung. Apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama akan menyebabkan reaksi psikologis berupa menurunnya konsentrasi dan kelelahan. Kebisingan merupakan suatu penghambat jalannya komunikasi yang baik. Contohnya pada saat seorang dosen mengajar didepan kelas terdengar suara tertawa di luar kelas, suara tersebut akan menyebabkan kebisingan di antara komunikasi yang terjadi antara dosen dan mahasiswa yang ada dikelas. Ada juga yang mengatakan bahwa kita juga perlu memikirkan tentang adanya suara-suara psikologis, seperti misalnya seorang mahasiswa sedang memikirkan hal-hal lain, sehingga sesekali sukar bagi individu tersebut untuk mendengarkan dosen. 
Jenis-jenis Kebisingan:
Secara umum jenis kebisingan di kelompokkan berdasarkan kontinuitas, intensitas dan spectrum frekuensi suara antara lain:
  • Study state – narrow band noise : Kebisingan yang terus menerus dengan spectrum yang sempit seperti suara mesin, kipas angin.
  • Non study state – narrow bund noise : Kebisingan yang tidak terus menerus dengan sprektrum suara yang sempit seperti mesin gergaji, katup uap.
  • Kebisingan intermiten : Kebisingan yang terjadi sewaktu-waktu dan terputus seperti suara pesawat terbang, kereta api.
  • Kebisingan impulsive : kebisingan impulsive yang berintensitas tinggi seperti ledakan bom dapat menyebebkan kerusakan pada alat pendengar. Kerusakan dapat terjadi pada gendang telinga atau tulang-tulang halus di telinga tengah.
  • pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan. Orang yang terampil membaca pesan nonverbal orang lain disebut intuitif sedangkan yang terampil mengirimkannya disebut ekspresif.

3. Jaringan
Secara sederhana, definisi jaringan komunikasi adalah ”siapa berbicara dengan siapa atau kepada siapa” (Beebe dan Masterson, 1994). Selanjutnya De Vito (1997), mendefinisikan jaringan komunikasi sebagai suatu saluran atau jalan tertentu yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain. Dimensi jaringan ini menjelaskan sejauh mana seseorang meluaskan jangkauan informasinya dalam melakukan komunikasi. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya akan mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jaringan komunikasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistem komunikasi umum yang akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang keorang lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bias dipandang sebagai struktur yang diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.
4. Arah
Komunikasi terdiri dari 2 macam arah yaitu :
  • Komunikasi satu arah adalah hanya ada satu orang berbicara menyampaikan infomasi untuk satu orang atau lebih contohnya promosi produk tertentu atau guru dikelas.
  • Komunikasi dua arah adalah adanya interaksi antara satu orang menyampaikan informasi satu orang atau lebih juga ikut berbicara sehingga terciptanya interaksi untuk menyampaikan beberapa informasi.
PERAN PSIKOLOGI MANAJEMEN DALAM ORGANISASI
Sebelum kita membahas mengenai peran psikologi manajemen dalam organisasi, kita harus tahu dulu mengani psikologi manajemen itu sendiri apa. Psikologi manajemen adalah ilmu atau bidang yang membahas tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Bagaimana sih manajemennya di dalam organisasi???
Yaitu ada empat hal atau fungsi utama nya; melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.
Sekarang mari kita bahas, apasih peran psikologi manajemen dalam organisasi ???
Ternyata ini sangat berkaitan dengan proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi itu sendiri melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian atau pengawasan orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya (Nickels, McHugh and McHugh ,1997). Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi ini, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan atau organisasi. Dasarnya, ilmu psikologi yg memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dan lainnya dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan atau organisasi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Suprapto,Tommy. (2009). Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta:MedPress.
Sendjaja, S Djuarsa.1994, Teori Komunikasi. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Vardiansyah, Dani. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan Ke-1. Bogor: Ghalia Indonesia, 2004.
indryawati.staff.gunadarma.ac.id/.../Psikologi+Manajemen+Rini.ppt